Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
Al-Bugisi
1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu
berkata:
الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي
الْقَلْبِ
“Nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati.”
(Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, 4/2, Al-Baihaqi dari
jalannya, 10/223, dan Syu’abul Iman, 4/5098-5099. Dishahihkan Al-Albani dalam
At-Tahrim hal. 10. Diriwayatkan juga secara marfu’, namun sanadnya
lemah)
2. Ishaq bin Thabba` rahimahullahu berkata: Aku bertanya
kepada Malik bin Anas rahimahullahu tentang sebagian penduduk Madinah yang
membolehkan nyanyian. Maka beliau mejawab: “Sesungguhnya menurut kami,
orang-orang yang melakukannya adalah orang yang fasiq.” (Diriwayatkan Abu Bakr
Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf: 32, dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal.
244, dengan sanad yang shahih)
Beliau juga ditanya: “Orang yang memukul genderang dan
berseruling, lalu dia mendengarnya dan merasakan kenikmatan, baik di jalan atau
di majelis?”
Beliau menjawab: “Hendaklah dia berdiri (meninggalkan
majelis) jika ia merasa enak dengannya, kecuali jika ia duduk karena ada satu
kebutuhan, atau dia tidak bisa berdiri. Adapun kalau di jalan, maka hendaklah
dia mundur atau maju (hingga tidak mendengarnya).” (Al-Jami’, Al-Qairawani,
262)
3. Al-Imam Al-Auza’i rahimahullahu berkata: ‘Umar bin
Abdil ‘Aziz rahimahullahu menulis sebuah surat kepada ‘Umar bin Walid yang
isinya: “... Dan engkau yang menyebarkan alat musik dan seruling, (itu) adalah
perbuatan bid’ah dalam Islam.” (Diriwayatkan An-Nasa`i, 2/178, Abu Nu’aim dalam
Al-Hilyah, 5/270. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal.
120)
4. ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata:
“Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang
menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air
yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash-
Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal.
148)
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abid Dunya (45), dari
Al-Qasim bin Salman, dari Asy- Sya’bi, dia berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa
Ta'ala melaknat biduan dan biduanita.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam
At-Tahrim hal. 13)
5. Ibrahim bin Al-Mundzir rahimahullahu –seorang tsiqah
(tepercaya) yang berasal dari Madinah, salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari
Rahimahullah– ditanya: “Apakah engkau membolehkan nyanyian?” Beliau menjawab:
“Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada yang melakukannya
menurut kami kecuali orang-orang fasiq.” (Diriwayatkan Al-Khallal dengan sanad
yang shahih, lihat At-Tahrim hal. 100)
6. Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Para tokoh dari
murid-murid Al-Imam Asy- Syafi’i rahimahullahu mengingkari nyanyian. Para
pendahulu mereka, tidak diketahui ada perselisihan di antara mereka. Sementara
para pembesar orang- orang belakangan, juga mengingkari hal tersebut. Di antara
mereka adalah Abuth Thayyib Ath-Thabari, yang memiliki kitab yang dikarang
khusus tentang tercela dan terlarangnya nyanyian.
Lalu beliau berkata: “Ini adalah ucapan para ulama
Syafi’iyyah dan orang yang taat di antara mereka. Sesungguhnya yang memberi
keringanan dalam hal tersebut dari mereka adalah orang-orang yang sedikit
ilmunya serta didominasi oleh hawa nafsunya. Para fuqaha dari sahabat kami (para
pengikut mazhab Hambali) menyatakan: ‘Tidak diterima persaksian seorang biduan
dan para penari.’ Wallahul muwaffiq.” (Talbis Iblis, hal.
283-284)
7. Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk
hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan
(suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku
mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan
batil.” (Al-Kafi hal. 191)
8. Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat
para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.”
(Tafsir Al-Qurthubi, 14/56)
9. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau
menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu di atas. (Majmu’ Fatawa,
11/576)
Masih banyak lagi pernyataan para ulama yang menjelaskan
tentang haramnya musik beserta nyanyian. Semoga apa yang kami sebutkan ini sudah
cukup menjelaskan perkara ini.
Wallahu a’lam.
Sumber : Majalah Asy Syariah -asysyariah.com-
Ebook compiled by Akhukum Fillah
Abu Harun As Salafy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar